Suatu siang sepulang sekolah, rumah
tampak sepi. Kubaca bagian depannya, aku memutuskan untuk tidak tertarik membacanya. Bokep china Ya ampun! Saat itulah kurasakan puting susu Kak Tina
mengelus punggung tanganku. Tapi Kak
Tina tak pernah mengajakku membaca bersama lagi. Mulai saat itu aku menyukai Pendekar Mata
Keranjang dan sejenisnya. Aku coba mengusapnya, seiring dengan
usapannya di pahaku. “Bau, tahu?! Bolak-balik
saja aku di samping Kak Tina. Berpandangan. Hanya aku dapat warisan dari Kak Tina. Aku menutup bagian depan celanaku yang basah dengan tas sekolahku. Dapat kurasakan kehangatan yang dihantarkannya. Kubaca bagian depannya, aku memutuskan untuk tidak tertarik membacanya. Dia tidak melarang. Aku
memanggilnya Kak Tina. Pantas, Kak Tina tak
mengijinkanku membacanya, pikirku. Dia hanya memberikan Kho Ping Hoo
untukku. Beratkupun saat itu belum sampai 40 kilo. Aku yang masih bocah terus membacanya. “Sana, Urus sapi”, Usirnya kepadaku. “Bangun! Sulit
sadarnya. Saya belum pernah Kak Tina ijinkan membacanya”. Rasa
penasaranku makin bertambah. “Dan, kamu tak boleh lagi tidur denganku”, Katanya lagi. Mulai saat itu aku menyukai Pendekar Mata
Keranjang dan sejenisnya. Dengan ragu-ragu, kuletakkan pula kedua tanganku di
pahanya.




















