Sial. Membuatku tidak berani. Bokep india Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya. Betul-betul keras. Lalu pindah ke pangkal paha. Ia tidak bercerita apa-apa. Ia tidak bercerita apa-apa. Aku terlambat setengah jam.Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Ah sial. Alamak.., jauhnya. Si Junior melemah. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Langkahku semangat lagi. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing.Dari atas: Turun. Bicara apa? Aku menggelepar.“Sst..! Dan kubuka celana pantai. Aku dipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Yes. Sekali. Kring..! Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh.Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Begini saja daripada repot-repot. Nafasnya tercium hidungku. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.“Mbak Hawin.., udah ada pasien tuh,” ujarnya




















