Jangan bergerak. “Jangan hentikan aku,” desisku. Playbokep Ia terkekeh. Namun bukannya langsung pulang, di jalan ia memintaku untuk berhenti di Dunkin’s. Sedikit kekecewaan timbul di hatiku. Aku bukan anak kecil, ucapku dalam hati, aku orang dewasa. Tapi rasa jengkelku sudah hilang. Kurasa aku terlalu emosionil.”
“Tak apa-apa,” balasku tersenyum. Jemarinya bergerak sedikit lebih cepat, membuatku mengerutkan wajah, menahan nafsuku sendiri. Kamu akan mengantarku pulang, bukan?”
“Tentu saja. Tangan kirinya menekuk ke dalam, sementara tangan kanannya terangkat, persis sikap menghormat bangsawan-bangsawan Eropa. “Jangan ! Dari balik kemeja putih tipis yang ia kenakan, aku bisa melihat bayangan bra-nya. “Jangan hentikan aku,” desisku. Aku memandangnya heran. Kuharap tidak,” desisnya kemudian. Ia balas menatapku. Nafsuku tak tertahan lagi, kuputar tubuhku menghadapnya, dan kupeluk ia. Tak heran, ini sudah pukul setengah satu pagi, dan menjelang hari raya, nyaris semua orang pergi berlibur.




















