Evi hanya menggelengkan kepala, seolah tidak bersemangat menanggapi kehadiranku. Playbokep Aku pun menyadarinya. Cemburukah dia? Memang sih, secara fisik, Tia memang jauh di atas Evi, tapi mengapa perasaanku cenderung memilih Evi? Akhirnya Evi menghampiriku sambil membawakan secangkir kopi hangat. Kami berdua saling bercerita sambil sesekali rayuan gombal Tia menggelikan telingaku.Mata kami saling beradu, kami mulai merasakan ketidakmyamanan. Setelah keringat kami mengering, Evi pun menggandeng tanganku menuju Kamar mandi. Cemburukah dia? Tiba-tiba Evi teriak, meminta sopir untuk menepikan mobilnya. Rasa bersalah menyelimuti pikiranku..lagi-lagi aku menyakiti perasaannya yang halus. Ada apakah ini, Tuhan?Hari itu hujan cukup deras mengguyur kota Cirebon, hingga akhirnya di kantor hanya tersisa aku, Evi dan satu teman lagi. Setelah keringat kami mengering, Evi pun menggandeng tanganku menuju Kamar mandi. Kami berdua saling bercerita sambil sesekali rayuan gombal Tia menggelikan telingaku.Mata kami saling beradu, kami mulai merasakan ketidakmyamanan. Sesekali bibir Tia mengecup keningku dengan hangat dan tangannya membelai lembut setiap helai rambutku. Wajah Evi langsung cemberut sambul melepaskan tangannya dari gandenganku.




















