Mulutnya persis di depan Junior hanya beberapa jari. Bokep viral Makin lama makin jelas. Aku memegang teteknya. Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.“Besar ya..?” ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat.Bau tubuhnya tercium. Atau mau gunting? Kali ini dengan telapak tangan. Ia tidak lagi dingin dan ketus.Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Dari perut turun ke paha. Ia malah melengos. Aku terpejam menahan air mani yang sudah di ujung. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya.




















