Goyangan panggulnya juga semakin liar menyambut genjotanku. Tapi berilah dia kesempatan mengenyam pendidikan. Bokep arab Dia tidak menjawab, matanya terpejam. “Cukup Om”, katanya. Aku bisa mendengar degupan dadanya yang cepat sekali.“Om”, desahnya. Kuambil dua buah sloki dan kubawa ke meja makan.“Apa itu Om?”“Anggur, kamu minum anggur?”“Ndak pernah. Aku hanya memikirkan kenikmatan bagi diriku, hendak mereguk dia sepuas-puasnya, karena bukankah ini adalah jual-beli? Wajahnya penuh airmata.“Kenapa jadi begini, Ermita? Sebelah tanganku kembali masuk aktif membelai dan meremas lekuk pinggang dan panggulnya. Barangkali tak pernah dia menyangka aku akan sampai hati mengatakan itu. Aku mencoba membela diri tanpa hasil.***Hari itu aku menunggu lagi dalam mobilku di depan sekolah itu. Mengapa dia menelpon aku memberitahu ini?Dan benar saja. Dia juga membantu menyediakan air dingin es dari kulkas dan sendok garpu. Kurang asin ini anak. Birahi kami agak mongendor karenanya. Terhuyung-huyung dia bangun dan kembali masuk kamarmandi, kelihatannya masih pusing. Kutengok ke samping. Tapi aku memang ingin mengorek pendapatnya mengenai aku.“Suka sama Om?




















