“Iya.”
“Memangnya ada apa?” tanyaku lagi. Playbokep Namun sama sekali aku tak merasakan apa-apa.Dan sikapku tetap dingin meskipun Lidya sudah melingkarkan tangannya ke leherku. Dan sikapku juga terus seperti anak balita, meski umurku sudah cukup dewasa.Pernah aku menangis semalaman dan mengurung diri di dalam kamar hanya karena Mbak Indira menikah. Bahkan dia menekan dadanya yg membusung padat ke dadaku.Terasa padat dan kenyal dadanya. Aku memang terlahir dari keluarga yg bisa dibilang cukup berada. Dia malah tersenyum. Aku memang mudah sekali disogok. Bahkan dia meremas-remas jari tanganku. Seperti ada denyutan yg hangat. Namun aku disambut Lidya yg memakai baju seperti mau pergi ke pesta saja. Namun sebelumnya dia memberitahu kalo aku harus membalasnya dgn cara-cara yg tak pantas untuk disebutkan. Sedangkan aku tetap diam, tak memberikan reaksi apa-apa. Bahkan aku tak protes ketika Lidya mengunci pintu kamar dan melepaskan bajuku. “Iya, Tante”, sahutku.Dan memang tepat jam tujuh malam aku datang ke rumah Lidya. “Jangan lupa jam tujuh malam, ya..” kata Tante Amanda mengingatkan. “Tak.., tak ada apa-apa, sahut Lidya




















