Dia tidak menoleh. Belinda menjawab telepon itu.“Sudah siap, aku tinggal jalan aja… Ditunggu di depan? Bokep hot Aku senyam-senyum mengerti.“Oke, ayo kita mulai,” kata Belinda.“Di mana nih fotonya?”“Kayaknya kalau di balkon bagus juga,” usul Belinda.Di kamar kosnya ada balkon sempit yang menghadap samping, ke arah rumahku. Kumasukkan memory card kosong ke kameraku. “Aku tau. Dari pertama kali masuk juga aku udah perhatiin.”Kacau… Jawabanku nggak terkontrol. Belinda pasti cinta berat kepada dia, sampai-sampai mau ngasih hadiah foto-foto seksi seperti ini. Belinda mengenakan tanktop pink dan rok mini pink yang memamerkan kemulusan pundak dan pahanya, tapi wajahnya yang cantik itu tampak sendu.“Hai… Om…” sapanya pelan.Dia mempersilakanku masuk dan mengajakku duduk di sofa. Biar aja dia sama si Viani. Belinda mengambilnya, dan melihat siapa yang menelepon.“Agus,” katanya sambil tersipu.Dia menjawab panggilan telepon sambil berdiri agak jauh dari posisiku. “Em, ya biasalah, tadi kebelet.”Belinda tersenyum.“Kebelet coli ya Om…”Kata-kata barusan membuatku merasa malu sekali.










