Lalu ia memijat lutut. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Bokep terbaru Angin menerobos dari jendela. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.“Mbak Wien.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruang sebelah. Atau apalah? Ia masih dingin tanpa ekspresi. Ia tersenyum ramah. Aku hanya main dengan tangan. Masih ada waktu bebas dua jam. Ke bawah lagi: Tidak. Aku tahu di mana ruangannya. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju. Ayo cepat ia hampir selesai membersihkan belakang paha. Ia memulai pijitan. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Wien, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh.




















