“Sudah.” Nadanya jadi lain, agak-agak sendu. Bokep viral Kantornya “x” (nama koranku), khan. Selalu ingat Ipet, kalau aku sendirian.”“Ipet?”
“Pacarku.”
“Oh. Politik? Lalu ia membuka pahanya agak lebar, terlihat samar-samar olehku kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah. Aku tersenyum, dan ia pun tersenyum. Aku menjawabnya dengan senang hati.Terkadang pun aku bertanya padanya. Aku terus menggoyang pantatku ke depan ke belakang, keatas kebawah dengan teratur sampai pada suatu saat.“Aahh Mas Ray…, agak cepet lagi sedikit goyangnya…, saya kayaknya udah mau keluar nih…”Diana mengangkat kakinya tinggi, melingkar di pinggangku, menekan pantatku dengan erat dan beberapa menit kemudian semakin erat…, semakin erat…, tangannya sebelah menjambak rambutku, sebelah lagi mencakar punggungku, mulutnya menggigit kecil telingaku sebelah kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan panjang dari mulutnya memanggil namaku.“Mas Ray…, aahh…, mmhhaahh…, Aahh…” Dia kelojotan. Perlahan menunduk. Mulutnya berkicau terus, bertanya-tanya mengenai profesiku. (Ini cuma sekedar nyentil, lho. “Iya”. Sampai pagi?”. Aku maklum, karena tahu latar belakang pemimpin yang mereka maksudkan itu.“Eh, nama kalian siapa?” Tanyaku, “Aku Ray.”
“Saya Diana.” Kata cewek manis itu, lalu teman-temannya




















