Antara lima dan enam tahun. Memang tingkahku tak ubahnya seorang anak balita.Tangisanku baru berhenti setelah Bapak berjanji akan membelikanku motor. Bokep terbaru Dan juga anak terakhir. Namun aku tak tahu apa yg membuatnya kecewa.“Ada apa, Lin?”, tanyaku tak mengerti perubahan sikapnya yg begitu tiba-tiba. Lidya kembali mencium dan melumat bibirku. “Jangan lupa jam tujuh malam, ya..” kata Tante Amanda mengingatkan. sehingga tak ada selembar benangpun yg masih melekat di sana. Dan aku merasakan kalo bagian badanku yg vital menjadi tegang, keras dan berdenyut serasa hendak meledak. “Aku mencintaimu”, sahut Lidya agak ditekan nada suaranya. Lidya ikut berbaring di sampingku. Dan juga anak terakhir. Lidya melepaskan pagutannya dan menatapku, Seakan tak percaya kalo aku sama sekali tak bisa apa-apa.“Kenapa diam saja..?” tanya Lidya merasa kecewa atau menyesal karena telah mencintai laki-laki sepertiku.Namun tak.., Lidya tak menampakkan kekecewaan atau penyesalan Justru dia mengembangkan senyuman yg begitu indah dan manis sekali. Dia malah tersenyum. Kembali Lidya mencium bibirku. Kali ini bukan hanya mengecup, namun dia melumat dan mengulumnya dgn penuhl gairah.




















