Sesekali kulepaskan tangan kiriku dari kemudi untuk membimbing tangannya agar bersedia meakukan gerakan naik turun mengocok kontolku yang semakin tegang dan keras.“ayo dong mbah … kocok mbah …” aku mulai merajuk seiring dengan akal sehatku yang mulai hilang.Mbah Suliyem tak bergeming, hanya menatapku kemudian kembali menatap ke arah depan sambil sesekali menggerakan tangannya naik-turun mengocok kontolku dengan ogah-ogahan, karna kadang tangannya berhenti bergerak meski tetap menggenggam kontolku.Tak terasa hingga kami pun keluar dari area hutan Bunder dan sudah tampak satu-dua rumah penduduk di kanan kiri jalan. Bokep indonesia kok bisa sampai kemalaman memangnya dari mana? Mbah Suliyem tak bereaksi, entah apa yang dirasakannya, aku tak peduli. Setelah mesin kumatikan, kubuka laci dashboard dan kuambil tas pinggang tempat aku biasa menyimpan uang hasil penjualan, lalu kuambil dua bundel uang pecahan senilai dua ratus ribu. Aku pun memelorotkan celana kolorku sebelum mulai menginjak pedal gas.“lho mas, mas mau apa, kenapa celananya dipelorotkan disini?”Kata “Disini” yang diucapkan mbah Suliyem adalah lampu hijau yang dapat aku simpulkan bahwa beliau bersedia, tapi aku




















